As Dilthey (Constantino in Given 20008) said humans must be studied within the context of their social and cultural lives. So,finally I would like to say that this topic is popluarly discussed by Professor Mudjia Rahardjo.
All the best prof....!







![]() | Today | 706 |
![]() | Yesterday | 1250 |
![]() | This week | 3084 |
![]() | This month | 22544 |
![]() | All | 985539 |
| Peringkat Pendidikan Indonesia Menurun (13 comments) | |
| Ibu Karti, Orang Miskin Urban di Metropolitan (4 comments) | |
| Ringkasan Disertasi (5 comments) | |
| Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif (21 comments) | |
| WHAT IS SOCIOLINGUISTICS ALL ABOUT? (56 comments) | |
| Mengukur Kualitas Penelitian Kualitatif (Bagian 2 Habis) (3 comments) | |
| Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif (143 comments) | |
| SEJARAH PENELITIAN KUALITATIF: Penelitian Etnografi sebagai Titik Tolak (9 comments) | |
| Triangulasi dalam Penelitian Kualitatif (90 comments) | |
| DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF (109 comments) |
| Bohong: Mengurai Kebohongan Angelina Sondakh |
|
|
|
| Written by Mudjia Rahardjo |
| Tuesday, 28 February 2012 04:23 |
|
Tidak ada kata yang lebih populer dan mengemuka di masyarakat akhir-akhir ini melebihi kata “bohong”. Awalnya adalah kesaksian anggota DPR dari Fraksi Demokrat, Angelina Sondakh, dalam persidangan Muhammad Nazaruddin dalam kasus wisma atlet SEA Games di Palembang tahun lalu yang dinilai banyak pihak melakukan kebohongan. Nazaruddin sendiri tampak jengkel terhadap Anggie, panggilan akrab mantan putri Indonesia Angelina Sondakh, ketika menjawab pertanyaan hakim tentang keterlibatannya dalam kasus tersebut dengan berkali-kali menjawab “tidak tahu” dan “tidak” ketika dicecar pertanyaan hakim. Karena merasa dikibuli dengan memberikan kesaksian bohong, melalui kuasa hukumnya, Nazaruddin melaporkan Anggie ke Polda Metro Jaya. Pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga” sangat relevan untuk menggambarkan keadaan Anggie saat ini. Pasalnya, selain menjadi saksi kasus Nazaruddin, Anggie sendiri juga sudah berstatus tersangka pada kasus yang sama. Rumitnya, saat ini dia juga sedang menunggu panggilan Polda Metro Jaya karena kesaksian bohongnya tersebut.
Memang hak Anggie untuk menyangkal semua pertanyaan hakim. Tetapi dari bahasa tubuhnya (body language), dugaan bahwa Anggie berbohong cukup beralasan. Misalnya, dari layar TV tampak bahwa Anggie tidak berani menatap langsung wajah hakim, dan selalu menjawab pertanyaan dengan nada datar dan ragu-ragu serta tidak tegas disertai kata-kata “yang mulia” untuk menyebut hakim. Padahal, dalam kesehariannya Anggie dikenal cerdas, tangkas, percaya diri, lincah dan tentu cantik. Maklum dia mantan putri Indonesia. Jika tidak pintar dan cantik, tidak mungkin dia terpilih menjadi putri Indonesia. Tetapi dalam persidangan tersebut Anggie seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Semuanya itu sebenarnya tidak lebih merupakan upaya Anggie untuk menutupi kebohongannya. Orang bohong, sehebat apapun, tidak pernah bisa percaya diri. Dalam hatinya pasti ada kegelisahan, dan semakin banyak orang yang berhasil dikelabuhi, dia semakin bingung. Begitu psikologi orang bohong. Dia tidak pernah merasa tenang dan bahagia dalam hidupnya. Tetapi sebenarnya apa makna “bohong”. Ada beberapa makna tentang “bohong”. Tetapi secara umum bohong diartikan sebagai pernyataan yang salah karena tidak sesuai dengan kenyataan dan sengaja dilakukan untuk mengelabuhi lawan bicara dengan maksud menyembunyikan keburukan atau kejahatan yang dilakukan. Bohong berbeda dengan salah. Pada “bohong” ada unsur kesengajaan, tetapi “salah” tidak ada unsur kesengajaan. Kesalahan terjadi karena kurang cermat dalam perhitungan. Dalam kesaksian Anggie, salah satu kebohongan yang dia buat adalah ketika menjawab pertanyaan hakim bahwa dia baru memiliki BB pada tahun 2010. Padahal, sejak 2009 banyak kuli tinta menyaksikan dia sudah memiliki dan menggunakan BB untuk berkomunikasi dengan para koleganya. Anggie tampaknya tidak sadar bahwa sebagai figur publik semua tindakannya dipantau oleh masyarakat, termasuk oleh para wartawan. Kali ini Anggie tidak bisa berkutik. Setidaknya tidak terdengar bantahan bahwa dia sebenarnya telah menggunakan BB sejak 2009. Sebab, wartawan punya bukti berupa foto Anggie sedang berkomunikasi dengan BB. Anggie sulit mengelak dan posisinya semakin sulit untuk terbebas dari tuntutan hukum. Saya membayangkan andai saja waktu bisa diputar kembali, saya yakin Anggie lebih memilih untuk tidak terjun ke dunia politik dan menjadi anggota DPR. Anggie akan merasa hidup lebih tenang dengan status mantan putri Indonesia dengan berbagai aktivitas yang menyertainya, bukan sebagai politisi. Tapi ibarat nasi sudah menjadi bubur. Anggie sudah terjun jauh ke dalam dunia politik. Karena itu, dia harus siap menanggung risikonya. Dugaan kebohongan Anggie lainnya adalah ketika dia tidak mengakui bahwa dia bersama Nazaruddin membagi-bagi uang untuk memenangkan Anas pada pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat. Lagi-lagi Anggie menolak dikatakan dia terlibat dalam pembagian uang panas tersebut. Dia selalu menjawab “tidak yang mulia”. Jawabannya tidak tegas dan tampak ada yang menyetir bahwa dia harus menjawab begitu. Jawaban verbal apa yang harus dia berikan bisa disetir oleh para penasehat hukumnya, tetapi yang dilupakan oleh Anggie adalah dunia batin dia tidak bisa disetir oleh siapapun, termasuk oleh dirinya sendiri. Ungkapan dan dunia batin selalu seirama. Bahasa adalah ungkapan dunia batin penuturnya. Ungkapan tentang kebenaran akan selalu diikuti dengan suara tegas dan tatapan wajah yang mantap. Sebaliknya, kebohongan akan diikuti oleh suara yang tidak tegas dan ada nada ketakutan serta tidak berani menatap wajah lawan bicaranya. Dari bahasa tubuhnya dugaan keterlibatan Anggie dalam tindak pidana korupsi wisma atlet semakin kuat. Andai saja nanti Anggie terbukti terlibat dalam tindak pidana korupsi, maka untuk yang kesekian kalinya masyarakat dikibuli. Pasalnya, masih teringat jelas di benak masyarakat Indonesia ketika berkampanye untuk Partai Demokrat, Anggie dengan lantang menyuarakan pemberantasan korupsi. Tema pemberantasan korupsi yang diusung Partai Demokrat ternyata cukup ampuh untuk mendulang suara pada pemilihan umum. Terbukti Partai Demokrat menang dalam dua kali pemilu. Bergabungnya Anggie yang sudah menjadi figur publik karena sebagai putri Indonesia tentu menambah kekuatan baru bagi Partai Demokrat. Sebab, dalam sistem perpolitikan di Indonesia tampaknya keberadaan figur publik jauh lebih penting dibanding ide-ide brilian para politisi. Anggie memang bukan satu-satunya politisi dari Partai Demokrat yang terkena masalah penyalahgunaan keuangan negara. Sebab, sebelumnya juga ada nama-nama seperti Sarjan Tahir, As'ad Syam, M. Nazaruddin, dan Sudewo yang terlibat kasus sejenis. Tetapi, bahwa pemberitaan tentang Anggie di media melebihi yang lain memang bisa dimengerti. Sebab, selain telah menjadi figur publik sebelum terjun ke politik, Anggie adalah salah seorang pejabat teras partai pemenang pemilu yang berkuasa. Tentu saja dengan identitas semacam itu, semua tindakan Anggie menjadi berita besar. Saya teringat sebuah perspektif dalam teori sosial bahwa makna sebuah tindakan bukan terletak pada tindakannya itu sendiri, melainkan pada siapa yang melakukannya. Anggie memang bukan sembarang siapa. Dia adalah sosok dengan begitu banyak atribut sosial yang melekat pada dirinya, termasuk dia pindah agama sebelum akhirnya menikah dengan almarhum Adjie Massaid, aktor dan sekaligus juga politisi dari Partai Demokrat. Karena itu, tindakan apapun yang dia lakukan memiliki dimensi makna yang sangat luas. Ini bisa menjadi pelajaran bagi siapa pun, termasuk para anggota dewan yang terhormat untuk berhati-hati dalam bertindak. Jika Anggie nanti dalam persidangan terbukti bersalah, maka semakin membuktikan bahwa pada lembaga legislatif yang terhormat itu ada orang-orang yang tidak punya integritas. Mereka lupa akan janji yang mereka ucapkan ketika berkampanye untuk partainya masing-masing. Semua berjanji untuk membela kepentingan rakyat. Kenyataannya, alih-alih membela rakyat, uang negara yang notabene adalah uang rakyat mereka pakai untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Itulah korupsi. Negeri ini, sampai kapanpun, tidak akan pernah sejahtera jika praktik korupsi masih merajalela seperti sekarang ini. Jika ingin menjadi negara yang rakyatnya sejahtera, maka korupsi dengan berbaga bentuknya harus diberantas habis. Belajar dari negara-negara maju dan rakyatnya makmur, bisa dipastikan negara itu bebas dari korupsi. Saya sangat pesimis jika pemerintahan SBY yang tidak sampai tiga tahun lagi akan berakhir mampu menghapus korupsi sebagaimana yang dijanjikan dulu. Melihat para politisi Partai Demokrat yang terkena kasus korupsi, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa SBY sejatinya dikianati oleh para pendukungnya sendiri. Partai Demokrat kini sedang berduka. Para petingginya satu demi satu disebut-sebut terlibat tindak pidana korupsi. Kendati belum terbukti, pemberitaan media seolah sudah memberikan punishment bahwa mereka terlibat. Dalam sisa waktu pemerintahan ini, para petinggi Partai Demokrat memerlukan energi ekstra keras untuk mengatakan bahwa Partai Demokrat masih berkomitmen untuk memberantas korupsi dan mengembalikan kepercayaan publik. Salah satu caranya adalah menyerahkan sepenuhnya semua kader dan pengurus partai yang diduga terlibat pidana untuk diproses secara hukum oleh lembaga penegak hukum, tanpa sedikitpun intervensi. Jika mereka terbukti bersalah harus segera diberhentikan dari partai dan keanggotaannya di dewan perwakilan bagi yang menjadi anggota dewan. Jika tidak, posisi Partai Demokrat bisa pada urutan ketiga atau bahkan keempat pada pemilu yang akan datang. Jika ini terjadi maka Partai Demokrat akan pudar seiring dengan berakhirnya masa kepresidenan SBY. Ada pertanyaan mengapa antara Anggie dan Nazaruddin yang sama-sama pengurus teras partai dan tentu teman dekat sekarang saling menyerang dan menyudutkan? Begitu juga Nazaruddin yang terus menerus memojokkan Anas Urbaningrum yang notabene adalah atasannya langsung di partai? Ada dua jawaban. Pertama,. psikologi orang ketika berurusan dengan hukum, apalagi menjadi terdakwa, pasti akan berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan dirinya sendiri, termasuk harus berbohong sekalipun. Tidak mungkin seseorang dalam posisi demikian mau berkorban untuk menyelematkan orang lain, kecuali dengan kompensasi yang luar biasa. Kedua, ada adagium politik terkenal, yaitu “tidak ada teman dan musuh abadi dalam politik, tetapi yang ada adalah kepentingan abadi”. Adagium ini sangat tepat untuk menggambarkan kasus yang menyeret Anggie, Nazaruddin, Andi Mallarangeng, termasuk dengan Anas Urbaningrum dalam pentas politik nasional. Dengan terus “bernyanyinya” Nazaruddin di setiap persidangan dengan menyebut teman-teman dekatnya di partai dulu, tampaknya drama politik tingkat tinggi masih akan berlangsung lama dan seru dan akan menjadi tontonan gratis masyarakat. Lumayan, ketimbang melihat tim sepak bola nasional kita yang tidak pernah memang, karena pengurusnya berantem terus, mendingan melihat Angelina Sondakh – yang cantik --- duduk di kursi pesakitan sambil menyaksikan kebohongan-kebohongan yang dia ucapkan! ___________
Malang, 27 Februari 2012
Comments (7)
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta1
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved." |
| Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 04:28 |