• Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
Ambisi dan Ambisius PDF Print E-mail
Written by Mudjia Rahardjo   
Sunday, 14 February 2010 00:00

Berawal dari bisikan kecil seorang mahasiswa yang dialamatkan ke telinga saya ketika menghampiri sekelompok mahasiswa yang baru saja selesai mengikuti kuliah. “Pak, orang itu kok ambisinya gede banget, dan sangat ambisius”, begitu bisikan mahasiswa tersebut. Sambil memandang orang yang dimaksudkan, saya terdiam sejenak seraya berpikir apa sebenarnya makna “ambisi dan ambisius” di benak mahasiswa tersebut, sehingga saya tak memberi respon dan tampak dingin. Mungkin mahasiswa itu bermaksud curhat kepada saya tentang orang tersebut, sehingga dari raut mukanya tampak sedikit kekecewaan atas sikap saya yang dingin.

Tampaknya, kata “ambisi” dan “ambisius” merupakan dua di antara sekian banyak kosakata bahasa Indonesia yang maknanya mengalami salah kaprah. Buktinya, orang akan merasa kurang senang bahkan bisa tersinggung kalau dikatakan “Kamu ambisius” atau “Kamu orang yang berambisi”. Mengapa? Karena di masyarakat kita kata “ambisi” dan “ambisius” berkonotasi negatif. Studi sosiolinguistik menyatakan kata yang berkonotasi negatif bisa menimbulkan reaksi emosional tertentu, dan bisa menimbulkan konflik, lepas apakah kata itu mengacu pada kenyataan atau tidak.

Kata “ambisi” umumnya diartikan sebagai keinginan kuat mencapai sukses dengan cara apapun, bahkan dengan cara yang tidak semestinya dan kalau terpaksa dengan mengorbankan teman dan sahabat karib sekalipun. Kata ini maknanya menjadi peyoratif, kata yang maknanya memburuk.

Benarkah kata “ambisi” dan “ambisius” bermakna negatif? Atau berkonotasi negatif karena kata itu menempel pada sikap-sikap negatif seseorang? Kegelisahan saya atas makna kata tersebut memaksa saya melakukan pelacakan lewat kamus dan buku yang membahas persoalan “ambisi” dan “ambisius”. Kata “ambisi“ dan “ambisius” berasal dari bahasa Inggris “ambition” dan “ambitious”. Oxford Advanced Learner’s Dictionary (1989: 34) mendefinsikan “ambition” sebagai “strong desire to achieve something” (keinginan kuat untuk mencapai sesuatu”, sementara “ambitious” didefinisikan sebagai “to be full of ambition, especially for success or money” (penuh dengan ambisi khususnya untuk memperoleh kesuksesan atau uang”.

Dari definisi di atas bisa ditarik butir-butir pengertian sebagai berikut:

• ada tujuan yang hendak dicapai,
• ada keinginan kuat untuk mencapai tujuan tersebut,
• ambisius merupakan sikap alamiah yang berlaku pada siapa saja.

Jika pembaca setuju dengan butir-butir tersebut di atas, maka tidak ada sama sekali konotasi negatif yang dikandung kata tersebut. “So, there is nothing wrong with the words “ambition” and “ambitious”, begitu penutur bahasa Inggris biasanya berujar ketika melihat tidak ada persoalan yang dihadapi.

Pembacaan saya atas kesalahkaprahan makna “ambisi” dan “ambisius” menemukan jawaban yang melegakan. Menurut Tatenhove (dalam Wishnubroto, 1992:12) konotasi negatif kata kata tersebut ternyata sudah lama terjadi, yakni pada abad ke-15 ketika muncul pertama kali dalam literatur Inggris yang diambil dari bahasa Perancis. Kala itu ambisi berarti “an eager desire for honor, rank, and position” (suatu keinginan kuat untuk memperoleh kemuliaan, kedudukan dan jabatan tinggi). Dalam perkembangannya, kita tidak tahu mengapa justru makna inilah yang lebih populer dan dianggap benar oleh banyak orang. Sementara makna aslinya dalam bahasa Inggris yang baik dan benar tidak dipakai.

Orang memungut begitu saja arti kata ambisi yang memang cenderung negatif (karena orang yang berhasrat mencapai kedudukan, jabatan dan kekuasaan cenderung menghalalkan berbagai cara untuk memperolehnya). Padahal, arti asli kata itu dalam bahasa Inggris sangat bagus. Orang harus memiliki keinginan dan cita-cita kuat dan berjuang serta bekerja keras untuk mencapainya. Cita-cita kuat dan perjuangan keras itu menurut saya justru harus kita miliki jika ingin berhasil. Keberhasilan tidak mungkin datang tanpa perjuangan keras.

Oleh karena itu, kita harus mulai menggunakan dan memaknai kata “ambisi” dan “ambisius” dalam arti yang benar, sehingga tidak memandang ambisi dan ambisius sebagai tindakan dan sikap negatif.. Tetapi saya sadar bahwa pekerjaan ini tidak mudah, karena membetulkan “kesalahkaprahan” memang tidak segampang meluruskan ”kesalahan” makna kata. Sebab, di masyarakat sudah terlanjur terjadi apa yang oleh para ilmuwan sosial disebut sebagai “collective memory” yang tidak begitu saja mudah dihilangkan.

Uraian singkat ini mengajak kita untuk tidak melanjutkan kesalahkaprahan makna “ambisi” dan “ambisius” dalam interaksi sosial kita. Akhirnya, saya justru merenung jangan-jangan orang yang dimaksudkan mahasiswa di awal tadi justru orang yang harus kita tiru sikap dan etos kerjanya.

Akhirnya, atas bisikan mahasiswa tersebut saya tak lupa menyampaikan terima kasih sebab ternyata mengantarkan saya ke pemahaman yang benar atas kesalahkaprahan dan kesalahpahaman selama ini. Kini saya justru menunggu bisikan-bisikan selanjutnya. Mungkin bisikan lain akan meluruskan kesalahkaprahan yang lain pula. Kesalahkaprahan dan kesalahpahaman toh masih semarak di sekeliling kita.

Comments (3)
  • Wishnubroto Widarso  - Siip-lah
    avatar
    Matur nuwun Mas Mudjia atas diikutsertakannya buku alit saya, Ambisi Kawan atau Lawan. Wah, nuwun sewu ya, tanpa kulo nuwun kok menyebut "Mas". Salam hangat ya dari Solo. Dan proficiat Pak Profesor.
  • Handoko  - Bisikan Lanjutan
    avatar
    Sementara Ramon Greenwood menyatakan bahwa ambisi hanyalah kata belaka sampai seseorang melakukannya (Ambition Is Just A Word Until You Act), saya lebih suka membenturkan apa yang diyakini seorang Steven Brust bahwa pemuda tanpa ambisi dapat diibaratkan sebagai orang tua yang menunggu mati (A young man without ambition is an old man waiting to be) dengan banyaknya kutipan yang tidak menyisakan ruang untuk satu kata; ambisi. Sebut saja James M. Barrie yang menempatkan kata ambisi sebagai kelemahan terakhirnya fikiran mulia (Ambition - it is the last infirmity of noble minds), dan penutur–penutur lain yang jujur menyuarakan ketidaksepahaman mereka terhadap leksikon ambisi: Ambition aspires to descend (Pierre Corneille), Ambition breaks the ties of blood, and forgets the obligations of gratitude (Sallust), Ambition can be a disease, and it feeds on itself (Rebecca Miller), Ambition drove many men to become false; to have one thought locked in the breast, another ready on the tongue (Sallust), and many more. Mengingat pentingnya untuk tidak selalu memenjarakan kata dalam kungkungan sebuah kamus (lexical translation), alangkah lebih melegahkan jika saja Prof. Mudji menyajikan kontek kata (context clues) bagi mahasiswa pembisiknya. Sebagai pembisik berikutnya, bagi saya Ambition will eat itself. Salam dari Kampus Pagar Kawat Sawojajar
  • sugeng sukolono  - ambitio(latin), from ambire, to go about
    avatar
    Ambition is just a noun in English, while ambitious is the adjective of the noun 'ambition'. But be careful! in interchangeably using these to forms. There are many- many english words which have been indonesized become totally different meanings or diametrictly opposite. Historically the word' ambition ', originally used during the Roman Empire, the practice of roman candidates(senatorial candidates) for office, who went about the city to solicit votes. But, again, everything depends on the contexts and it can carries positive or negative connotation, for example, Obama's heathcare legislation is very ambitious, that's negative because he puts so much in the bill to pass,should be more focused on a few things that can possiby pass in Congress.
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."