Terlebih lagi sudah menyajikan tulisan tentang penelitian dengan kamar-kamar filsafatnya yang jelas dan mudah difahami.
Semoga terus produktif.







![]() | Today | 423 |
![]() | Yesterday | 1139 |
![]() | This week | 3940 |
![]() | This month | 23400 |
![]() | All | 986395 |
| Peringkat Pendidikan Indonesia Menurun (13 comments) | |
| Ibu Karti, Orang Miskin Urban di Metropolitan (4 comments) | |
| Ringkasan Disertasi (5 comments) | |
| Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif (21 comments) | |
| WHAT IS SOCIOLINGUISTICS ALL ABOUT? (56 comments) | |
| Mengukur Kualitas Penelitian Kualitatif (Bagian 2 Habis) (3 comments) | |
| Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif (143 comments) | |
| SEJARAH PENELITIAN KUALITATIF: Penelitian Etnografi sebagai Titik Tolak (9 comments) | |
| Triangulasi dalam Penelitian Kualitatif (90 comments) | |
| DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF (109 comments) |
| SEJARAH PENELITIAN KUALITATIF: Penelitian Etnografi sebagai Titik Tolak |
|
|
|
| Written by Mudjia Rahardjo |
| Monday, 16 January 2012 02:51 |
|
(Bagian 1) Metode penelitian, baik dengan paradigma positivistik maupun interpretif, dianggap sulit, karena untuk menguasainya diperlukan pendekatan multidipliner, seperti filsafat ilmu, bahasa, statistik, dan tentu saja penguasaan pada bidang yang dikaji. Misalnya, peneliti bidang manajemen pendidikan wajib menguasai ilmu manajemen secara umum dan juga ilmu pendidikan. Menguasai beberapa disiplin ilmu sekaligus bukan pekerjaan mudah. Selain itu, pemahaman mengenai metode penelitian dari waktu ke waktu dan dari satu mazhab ke mazhab yang lain juga terus mengalami perkembangan sehingga cukup membingungkan, terutama bagi pemula. Pada saat yang sama perspektif baru masih dalam payung paradigma interpretif bermunculan, seperti hermeneutika, strukturalisme, semiotika, fenomenologi, studi budaya, dan feminisme. Karena itu, di kalangan mahasiswa, metodologi penelitian dianggap sebagai matakuliah “momok”, sehingga andai saja tidak diwajibkan atau boleh memilih mereka tidak akan mengambil matakuliah metodologi penelitian yang memang cukup rumit. Tetapi mereka tentu tidak bisa menghindar, karena metodologi penelitian merupakan prasyarat wajib untuk melakukan penelitian untuk menyusun karya ilmiah seperti skripsi, tesis dan disertasi. Tanpa pengetahuan tentang penelitian, peneliti tidak mungkin akan bisa melakukan penelitian dengan baik. Salah satu upaya untuk memudahkan pemahaman metode penelitian tersebut adalah melalui pendekatan historis dengan mengkaji asal mula kelahiran metodologi penelitian sebagai sebuah disiplin. Sajian pendek ini memaparkan sejarah metode penelitian, khususnya penelitian kualitatif. Sebagian besar isinya disari dari “The SAGE Encyclopedia of QUALITATIVE RESEARCH METHODS”, karya Lisa M.Given (ed.) , Volume 1&2 yang diterbitkan oleh A SAGE Reference Publication, tahun 2008. Berikut uraiannya.
A. Sejarah Kelahiran Metode Penelitian Kualitatif Sebagaimana diketahui metode penelitian kualitatif berada di bawah payung paradigma interpretif atau fenomenologi yang menggunakan tradisi berpikir ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi dan antropologi yang diawali oleh kelompok ahli sosiologi dari “mazhab Chicago pada era 1920-1930, sebagai landasan epistemologis. Tujuannya ialah untuk memahami (to understand, bukan to explain) gejala sosial yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam suatu peristiwa. Menurut para penggagasnya, pengalaman bukan kenyataan empirik yang bersifat obyektif, melainkan pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa yang dilalui atau dialami seseorang. Kebenaran diperoleh lewat pemahaman secara holistik, dan tidak semata tergantung pada data atau informasi yang teramati saja, melainkan pula mendasarkan pada informasi yang tidak tampak dan digali secara mendalam. Akal sehat (common sense) bisa menjadi landasan mencari kebenaran. Kebenaran bersifat unik, dan tidak bisa berlaku secara umum dan diperoleh lewat proses induktif. Pada tahun 1960 di Amerika dan pada 1970-an di negara-negara berbahasa Jerman, paradigma interpretif mengalami perkembangan sangat pesat. Berdasarkan studi literatur, metode penelitian kualitatif memiliki sejarah yang sangat panjang dan mengalami pasang surut dalam ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu kesehatan, dan humaniora. Pengertian penelitian kualitatif pun juga mengalami perkembangan makna dari waktu ke waktu. Para ahli metodologi penelitian kualitatif pada awal kelahirannya memaknai secara berbeda dengan pemahaman para ahli penelitian kualitatif era post-modernisme. Pada awalnya, penelitian kualitatif sebenarnya hanya merupakan reaksi terhadap tradisi paradigma positivisme dan postpositivisme yang berupaya melakukan kajian budaya yang bersifat interpretatif. Para penggagas metode penelitian kualitatif beranggapan bagaimana mungkin penganut paradigma positivistik yang menitikberatkan pada realitas empirik mampu menggali makna yang bersifat abstrak. Kegelisahan tersebut dijawab dengan menciptakan cara pandang dan metode lain untuk mengungkap persoalan kehidupan sosial. Benar bahwa karya-karya para ahli dari mazhab Chicago pada era 1920 – 1930’an menjadi dasar utama kebangkitan metode penelitian kualitatif dalam penelitian sosial, tetapi sejatinya peran disiplin-disiplin lain seperti sejarah, kedokteran, keperawatan, pekerjaan sosial, dan komunikasi juga sangat besar. Tidak hanya itu, sub-disiplin ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu kesehatan, humaniora, termasuk antropologi budaya, interaksionisme simbolik, Marxisme, etnometodologi, fenomenologi, feminisme, studi-budaya, dan postmodernisme, masing-masing dengan landasan teoretik, konsep tentang realitas, pandangannya tentang hakikat kebenaran dan pilihan-pilihan metodologisnya juga memberikan kontribusi sangat besar terhadap perkembangan metode penelitian kualitatif hingga saat ini. Karena itu, metode penelitian kualitatif tidak berangkat dari satu disiplin ilmu. Misalnya, sosiologi, antropologi, psikologi, politik dan yang lain-lain, melainkan dari banyak disiplin ilmu sosial secara bersamaan. Dengan demikian, tidak benar jika dikatakan bahwa akar-akar penelitian kualitatif berangkat dari disiplin sosiologi saja sebagaimana kita pahami selama ini. Namun demikian, kendati asumsi teoretik dan pilihan-pilihan metodologisnya berbeda-beda, berbagai disiplin yang disebutkan tersebut memiliki alasan yang sama dalam menggunakan metode penelitian kualitatif, untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan memahami perilaku terpola (patterned behaviors) dan proses-proses sosial di masyarakat..
B. Perspektif Historis Arthur J. Vidich dan Standford M. Lyman Walaupun beberapa sumber mengatakan bahwa awal perkembangan penelitian kualitatif dimulai pada abad ke-20, seperti yang ditulis oleh Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln dalam “Seven Moments of Qualitative Research”, sumber yang lain menyatakan bahwa sebenarnya perkembangan penelitian kualitatif sudah ada jauh sebelumnya, yakni sejak abad ke-17, tidak jauh berbeda dengan perkembangan penelitian kuantitatif. Vidich dan Lyman membagi sejarah penelitian kualitatif yang dipakai oleh para sosiolog dan antropolog dalam penelitian etnografi ke dalam beberapa rangkaian tahapan yang saling terkait. Kontinum ini dimulai oleh etnografer awal dan berakhir dengan pertimbangan-pertimbangan praktis dan teoretis yang unik sebagai ciri utama penelitian kualitatif kontemporer. Sebagaimana diketahui penelitian kualitatif berangkat dari kasus-kasus unik yang terjadi di masyarakat dan berakhir dengan temuan yang unik pula. Karena dipakai untuk memahami kasus yang unik, maka penelitian kualitatif juga menggunakan metode yang unik, mulai pengumpulan hingga analisis data. Karena mengkaji sesuatu yang unik dan kesimpulannya juga unik, maka hasil penelitian kualitatif tidak bisa digeneralisasikan dan karena itu hanya berlaku di tempat penelitian diadakan. Menurut Vidich dan Lyman, sejarah kelahiran penelitian kualitatif dimulai oleh para peneliti etnografi selama abad ke-17. Selama periode tersebut peneliti kualitatif melibatkan para peneliti Barat yang melakukan penelitian tentang adat istiadat, praktik, dan perilaku masyarakat primitif untuk memahami pihak lain (the others). Selama periode itu pula, “pihak lain” atau yang dalam sosiologi lazim disebut “the others” sering disebut sebagai “bukan orang putih” (non-White persons) yang hidup di masyarakat yang dianggap kurang beradab dibanding dengan masyarakat di mana para peneliti tinggal. Para peneliti sebelumnya pada abad ke-15 dan 16 pernah mengalami kesulitan untuk memahami “masyarakat primitif yang mereka temukan itu dalam Dunia Baru (New World), Persoalan muncul ketika peneliti berusaha menjelaskan keberadaan kelompok masyarakat semacam itu berdasarkan pandangan kitab suci (Injil) dan penjelasan terkait dengan sejarah geografi dan asal mula manusia. Memahami perbedaan rasial dan kultural dan keterbatasan ajaran agama (Kristen) untuk menjelaskan perbedaan tersebut, para peneliti etnografi itu sepakat menempatkan perbedaan itu dalam teori baru tentang asal mula sejarah budaya dan ras (racial and cultural historical origins). Periode tersebut oleh Vidich dan Lyman disebut Periode Etnografi Awal (Early Ethnography) yang merupakan tonggak penelitian kualitatif. Selanjutnya Vidich dan Lyman membagi penelitian etnografi menjadi periode-periode sebagai berikut: Etnografi Kolonial abad ke-17-19 (Colonial Ethnography), Etnografi bagi Orang Indian Amerika yang Dianggap sebagai Orang Lain, akhir abad ke-19-awal abad ke-20, (Ethnography for American Indian as Others), Etnografi “Civic Other” berlangsung sejak awal abad ke-20 hingga tahun 1960-an, Etnografi Asimilasi (Etnography of Assimilation), tahun 1950- 1980-an, dan Etnografi Hari ini (Ethnography Today), mulai pertengahan tahun 1980-an hingga hari ini. Masing-masing periode memiliki penekanan dan prioritas sendiri-sendiri dalam melihat perbedaan masyarakat. Misalnya, periode Etnografi Kolonial di mana selama periode abad ke-17 hingga 19 hasil penelitian etnografi yang ditulis oleh para peneliti Barat, misionaris, dan penguasa kolonial disimpan di arsif-arsif gereja, baik di tingkal lokal maupun nasional.Sebenarnya, banyak tulisan pada etnografi periode awal tersebut yang berusaha mencai jalan bagaimana mengubah dunia menjadi masyarakat yang lebih beradab. Tetapi penguasa kolonial memaksakan kehendak untuk menciptakan model pluralisme “kolonial”, menciptakan antropologi baru yang tidak lagi memusatkan perhatian pada penduduk asli dan proses-proses sosial mereka, dan menekankan pengaruh positif aturan atau hukum secara tidak langsung. Istilah “underdeveloped” dan “the third world” yang kita kenal hari ini untuk mengklasifikasi masyarakat maju dan tidak maju berasal dari periode ini. Penelitian-penelitian etnografi pada saat itu turun drastis karena para peneliti etnografi dianggap ikut bertanggungjawab terhadap ketidakmajuan negara-negara dunia ketiga. Akibatnya, para peneliti etnografi mengalihkan perhatian pada kajian-kajian bahasa untuk menghindari tuduhan tersebut. (Bersambung)
Comments (8)
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta1
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved." |
| Last Updated on Monday, 16 January 2012 03:11 |