• Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
SEJARAH PENELITIAN KUALITATIF: Penelitian Etnografi sebagai Titik Tolak PDF Print E-mail
Written by Mudjia Rahardjo   
Monday, 16 January 2012 02:51

(Bagian 1)

Metode penelitian, baik dengan paradigma positivistik maupun interpretif, dianggap sulit, karena untuk menguasainya diperlukan pendekatan multidipliner, seperti filsafat ilmu, bahasa, statistik, dan tentu saja penguasaan pada bidang yang dikaji. Misalnya, peneliti bidang manajemen pendidikan wajib menguasai ilmu manajemen secara umum dan juga ilmu pendidikan. Menguasai beberapa disiplin ilmu sekaligus bukan pekerjaan mudah. Selain itu, pemahaman mengenai metode penelitian dari waktu ke waktu dan dari satu mazhab ke mazhab yang lain juga terus mengalami perkembangan sehingga cukup membingungkan, terutama bagi pemula.


Pada saat yang sama perspektif baru masih dalam payung paradigma interpretif bermunculan, seperti hermeneutika, strukturalisme, semiotika, fenomenologi, studi budaya, dan feminisme. Karena itu, di kalangan mahasiswa, metodologi penelitian dianggap sebagai matakuliah “momok”, sehingga andai saja tidak diwajibkan atau boleh memilih mereka tidak akan mengambil matakuliah metodologi penelitian yang memang cukup rumit.

Tetapi mereka tentu tidak bisa menghindar, karena metodologi penelitian merupakan prasyarat wajib untuk melakukan penelitian untuk menyusun karya ilmiah seperti skripsi, tesis dan disertasi. Tanpa pengetahuan tentang penelitian, peneliti tidak mungkin akan bisa melakukan penelitian dengan baik. Salah satu upaya untuk memudahkan pemahaman metode penelitian tersebut adalah melalui pendekatan historis dengan mengkaji asal mula kelahiran metodologi penelitian sebagai sebuah disiplin. Sajian pendek ini memaparkan sejarah metode penelitian, khususnya penelitian kualitatif. Sebagian besar isinya disari dari “The SAGE Encyclopedia of QUALITATIVE RESEARCH METHODS”, karya Lisa M.Given (ed.) , Volume 1&2 yang diterbitkan oleh A SAGE Reference Publication, tahun 2008. Berikut uraiannya.

 

A. Sejarah Kelahiran Metode Penelitian Kualitatif

Sebagaimana diketahui metode penelitian kualitatif berada di bawah payung paradigma interpretif atau fenomenologi yang menggunakan tradisi berpikir ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi dan antropologi yang diawali oleh kelompok ahli sosiologi dari “mazhab Chicago pada era 1920-1930, sebagai landasan epistemologis. Tujuannya ialah untuk memahami (to understand,  bukan to explain) gejala sosial yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam suatu peristiwa. Menurut para penggagasnya, pengalaman bukan kenyataan empirik yang bersifat obyektif, melainkan pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa yang dilalui atau dialami seseorang. Kebenaran diperoleh lewat pemahaman secara holistik, dan tidak semata tergantung pada data atau informasi yang teramati saja, melainkan pula mendasarkan pada informasi yang tidak tampak dan digali secara mendalam. Akal sehat (common sense)  bisa menjadi landasan mencari kebenaran. Kebenaran bersifat unik, dan tidak bisa berlaku secara umum dan diperoleh lewat proses induktif. Pada tahun 1960 di Amerika dan pada 1970-an di negara-negara berbahasa Jerman, paradigma interpretif mengalami perkembangan sangat pesat.

Berdasarkan studi literatur, metode penelitian kualitatif memiliki sejarah yang sangat panjang dan mengalami pasang surut dalam ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu kesehatan, dan humaniora.  Pengertian penelitian kualitatif pun juga mengalami perkembangan makna dari waktu ke waktu. Para ahli metodologi penelitian kualitatif pada awal kelahirannya memaknai secara berbeda dengan pemahaman para ahli penelitian kualitatif era post-modernisme. Pada awalnya, penelitian kualitatif sebenarnya hanya merupakan reaksi terhadap tradisi paradigma positivisme dan postpositivisme yang berupaya melakukan kajian budaya yang bersifat interpretatif. Para penggagas metode penelitian kualitatif beranggapan bagaimana mungkin penganut paradigma positivistik yang menitikberatkan pada realitas empirik mampu menggali makna yang bersifat abstrak. Kegelisahan tersebut dijawab dengan menciptakan cara pandang dan metode lain untuk mengungkap persoalan kehidupan sosial.

Benar bahwa karya-karya para ahli dari mazhab Chicago pada era 1920 – 1930’an menjadi dasar utama kebangkitan metode penelitian kualitatif dalam penelitian sosial, tetapi sejatinya peran disiplin-disiplin lain seperti sejarah, kedokteran, keperawatan, pekerjaan sosial, dan komunikasi juga sangat besar. Tidak hanya itu, sub-disiplin ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu kesehatan, humaniora, termasuk antropologi budaya, interaksionisme simbolik, Marxisme, etnometodologi, fenomenologi, feminisme, studi-budaya, dan postmodernisme, masing-masing dengan landasan teoretik, konsep tentang realitas, pandangannya tentang hakikat kebenaran dan pilihan-pilihan metodologisnya juga memberikan kontribusi sangat besar terhadap perkembangan metode penelitian kualitatif hingga saat ini. Karena itu, metode penelitian kualitatif tidak berangkat dari satu disiplin ilmu. Misalnya, sosiologi, antropologi, psikologi, politik dan yang lain-lain, melainkan dari banyak disiplin ilmu sosial secara bersamaan. Dengan demikian, tidak benar jika dikatakan bahwa akar-akar penelitian kualitatif berangkat dari disiplin sosiologi saja sebagaimana kita pahami selama ini. Namun demikian, kendati asumsi teoretik dan pilihan-pilihan metodologisnya berbeda-beda, berbagai disiplin yang disebutkan tersebut memiliki alasan yang sama dalam menggunakan metode penelitian kualitatif, untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan memahami perilaku terpola (patterned behaviors) dan proses-proses sosial di masyarakat..

 

B.     Perspektif Historis Arthur J. Vidich dan Standford M. Lyman

Walaupun beberapa sumber mengatakan bahwa awal perkembangan penelitian kualitatif dimulai pada abad ke-20, seperti yang ditulis oleh Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln dalam “Seven Moments of  Qualitative Research”, sumber yang lain menyatakan bahwa sebenarnya perkembangan penelitian kualitatif sudah ada jauh sebelumnya, yakni sejak abad ke-17, tidak jauh berbeda dengan perkembangan penelitian kuantitatif. Vidich dan Lyman membagi sejarah penelitian kualitatif yang dipakai oleh para sosiolog dan antropolog dalam penelitian etnografi ke dalam beberapa rangkaian tahapan yang saling terkait. Kontinum ini dimulai oleh etnografer awal dan berakhir dengan pertimbangan-pertimbangan praktis dan teoretis yang unik sebagai ciri utama penelitian kualitatif kontemporer. Sebagaimana diketahui penelitian kualitatif berangkat dari kasus-kasus unik yang terjadi di masyarakat dan berakhir dengan temuan yang unik pula. Karena dipakai untuk memahami kasus yang unik, maka penelitian kualitatif juga menggunakan metode yang unik, mulai pengumpulan hingga analisis data. Karena mengkaji sesuatu yang unik dan kesimpulannya juga unik, maka hasil penelitian kualitatif tidak bisa digeneralisasikan dan karena itu hanya berlaku di tempat penelitian diadakan.

Menurut Vidich dan Lyman, sejarah kelahiran penelitian kualitatif dimulai oleh para peneliti etnografi selama abad ke-17. Selama periode tersebut peneliti kualitatif melibatkan para peneliti Barat yang melakukan penelitian tentang adat istiadat, praktik, dan perilaku masyarakat primitif untuk memahami pihak lain (the others). Selama periode itu pula, “pihak lain” atau yang dalam sosiologi lazim disebut “the others” sering disebut sebagai “bukan orang putih” (non-White persons) yang hidup di masyarakat yang dianggap  kurang beradab dibanding dengan masyarakat di mana para peneliti tinggal. Para peneliti sebelumnya pada abad ke-15 dan 16 pernah mengalami kesulitan untuk memahami “masyarakat primitif yang mereka temukan itu dalam Dunia Baru (New World), Persoalan muncul ketika peneliti berusaha menjelaskan keberadaan kelompok masyarakat semacam itu berdasarkan pandangan kitab suci (Injil) dan penjelasan terkait dengan sejarah geografi dan asal mula manusia. Memahami perbedaan rasial dan kultural dan keterbatasan ajaran agama (Kristen) untuk menjelaskan perbedaan tersebut, para peneliti etnografi itu sepakat menempatkan perbedaan itu dalam teori baru tentang asal mula sejarah budaya dan ras (racial and cultural historical origins).

Periode tersebut oleh Vidich dan Lyman disebut Periode Etnografi Awal (Early Ethnography) yang merupakan tonggak penelitian kualitatif. Selanjutnya Vidich dan Lyman membagi penelitian etnografi menjadi periode-periode sebagai berikut: Etnografi Kolonial abad ke-17-19 (Colonial Ethnography), Etnografi bagi Orang Indian Amerika yang Dianggap sebagai Orang Lain,  akhir abad ke-19-awal abad ke-20, (Ethnography for American Indian as Others), Etnografi “Civic Other” berlangsung sejak awal abad ke-20 hingga tahun 1960-an, Etnografi Asimilasi (Etnography of Assimilation), tahun 1950- 1980-an, dan Etnografi Hari ini (Ethnography Today), mulai pertengahan tahun 1980-an hingga hari ini. Masing-masing periode memiliki penekanan dan prioritas sendiri-sendiri dalam melihat perbedaan masyarakat.

Misalnya, periode  Etnografi Kolonial di mana selama periode abad ke-17 hingga 19  hasil penelitian  etnografi yang ditulis oleh para peneliti Barat, misionaris, dan penguasa kolonial disimpan di arsif-arsif gereja, baik di tingkal lokal maupun nasional.Sebenarnya, banyak tulisan pada etnografi periode awal tersebut yang berusaha mencai jalan bagaimana mengubah dunia menjadi masyarakat yang lebih beradab. Tetapi penguasa kolonial memaksakan kehendak untuk menciptakan model pluralisme “kolonial”, menciptakan antropologi baru yang tidak lagi memusatkan perhatian pada penduduk asli dan proses-proses sosial mereka, dan menekankan pengaruh positif aturan atau hukum secara tidak langsung. Istilah “underdeveloped” dan “the third world” yang kita kenal hari ini untuk mengklasifikasi masyarakat maju dan tidak maju berasal dari periode ini. Penelitian-penelitian etnografi pada saat itu turun drastis karena para peneliti etnografi dianggap ikut bertanggungjawab terhadap ketidakmajuan negara-negara dunia ketiga. Akibatnya, para peneliti etnografi mengalihkan perhatian pada kajian-kajian bahasa untuk menghindari tuduhan tersebut. (Bersambung)

 


Comments (8)
  • Mohammad Karim
    avatar
    Terima kasih Prof., telah meluangkan waktu untuk menulis tema ini, karena menulis sejarah membutuhkan keseriusan tinggi dan waktu yag cukup, dan buat saya tema seperti ini sangat penting untuk diketahui.

    Terlebih lagi sudah menyajikan tulisan tentang penelitian dengan kamar-kamar filsafatnya yang jelas dan mudah difahami.

    Semoga terus produktif.
  • Saadih Sidik
    avatar
    Sungguh, saya tidak bisa membayangkan bagaimana isi memori bapak dan bagaimana cara bapak membagi memori tersebut... Sebagai pejabat publik di sebuah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri terbesar dan di termegah di Indonesia, dengan puluhan ribu mahasiswa dan puluhan jurusan serta mengawasi ratusan dosen, menjaga tetap berjalannya kualitas akademik dan puluhan kesibukan lainnya; ternyata bapak masih sempat menulis sebaik dan penuh bobot seperti ini.
    Terimakasih banyak untuk semuanya. Semoga Allah SWT akan membalasnya dengan sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih bermakna dalam hidup bapak.
    Selamat ya pak. Ajari terus kami untuk senantiasa militan dalam berkarya!!!
  • Mudji  - Thank you a lot
    avatar

    Dear Pak Diki,
    Thanks for having read my article in this web and given me compliment. Yes, I am busy -- even very busy. But I have to share and contribute to academic development for everyone on the limited knowledge I have. To be a Vice Rector of a University is just an additional job I must do, But my real job is as a lecturer. For that I have to update my knowledge to the most current issue and then share it with public --- especially my students,of S1, S2 and S3, like you. Let us make our life useful for others. WE have no longer time to live. Let us do our best to make our lives more meaningful for every one.
    Regards,
    Mudji
  • suwari
    avatar
    Assamu'alaikum Prof.
    senin malam kemaren saya mengikuti perkuliahan Prof. Mudjia di S3 semenster III. Prof. mudjia menjelaskan banyak hal tentang penelitian termasuk Mixed methods. saya mau tanya prof. Jika hasil penelitian kuantitatif berlawanan dengan kualitatif, bagaimana solusinya prof. contoh misalnya ketika meneliti prestasi siswa, dari nilai UAN secara kuantitatif nilainya kan pasti baik2,namun jika diteliti secara lebih mendalam dengan kualitatif/interpretif pasti hasilnya akan beda... mohon solusinya prof.
  • Mudji  - terima kasih
    avatar

    Wa alaikum salam,
    Terima kasih atss kesempatan bapak membaca tulisan ssya di web ini. Terkait dengan pertanyaan Bapak, tidak mungkin terjadi hasil penelitian kuantitatif dengan kualitatif berlawanan. Mengapa? karena tidak mungkin ketemu.
    Penelitian kuantitatif, sebagaimana saya jelaskan berkali-kali, menanyakan hubungan antar-variabel dan pengaruh antara satu atau lebih variabel dengan yang lain. Jawaban yang dicari adalah ada atau tidak adanya hubungan tersebut. Sementara penelitian kualitatif menanyakan makna /meaning yang terjadi di balik hubungan atau tidak adanya hubungan antar-variabel tersebut. Kalau begitu, di mana kemungkinan terjadinya temuan yang bertolak belakang? Masing-masing metode menanyakan hal yang berbeda. Tetapi bermaksud untuk memperoleh penjelasan dan pemahaman atas fenonena secara bersamaan dengan lebih komprehensif. Itu yang dikenaldengan Metode Campuran atau Mixed Method.
    Terima kasih.
    Wassalam,
    Mudji
  • Aries Musnandar  - Mixed Methods Research
    avatar
    Dear Prof Mudjia,

    If I may add, the mixed methods is a broad umbrella term encompassing perspectives that see it as a research method of data collection and data analysis and or data interpretation,isn't it Prof.? There are certainly some characteristics of research that suggest us to apply such methods. Am I right or wrong sir?
  • thine
    avatar
    asalamualaikum
    pak, saya mw minta tolong kira" judul yg tepat yg saya ambil bwt skripsi nanti apa ya, coz dri kampus d haruskan menggunakan metode kualitatif, saya ada di jurusan kesehatan masyrakat (AKK)
  • saepuddin
    avatar
    When I begin to write and teach about research, I always remember everything you have thought us in lecture event. It is very useful knowledge. But sometime, me,,especially,,felt some difficulties in choosing instruction method to teach it. which is the better one,, theory first and than practice, or theory and practice as well ?? thank you very much on your answer.jazaakallahu khairan katsiran.
  • RAHMAT HARTOYO  - sambungan
    avatar
    pak. sambunganya mana neh... :) :)
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Last Updated on Monday, 16 January 2012 03:11